Blogging

Image

Waktu kecil, aku menderita disleksia. Yaitu gangguan fungsi kognitif pada otak kiri yang ditandai dengan ketidakmampuan mengolah kata, baik itu menulis ataupun membaca. Tentu saja orang tuaku tak ingin anaknya tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan tahapan normal balita. Aku lupa kapan pertama kali dilatih membaca, diusia empat atau lima tahun sepertinya. Menjadi seorang disleksia membuatku terpacu untuk bisa menulis dan membaca. Diusia sekolah dasar aku memulai membaca kumpulan cerita. Dari yang paling sederhana, buku cerita tipis bergambar sampai akhirnya aku mampu membaca novel tanpa ilustrasi. Setiap hari aku membaca satu cerita, dan terus berkembang hingga aku dapat menyelesaikan membaca sebuah buku. Puluhan bahkan hampir ratusan buku cerita telah aku tamatkan. Kemudian aku pun mulai menulis jurnal sederhana, seperti aktifitas sehari-hari sampai hal-hal yang aku alami.

Beranjak remaja, aku semakin adiksi membaca. Tulisan ku pun sudah tak lagi sederhana. Aku mulai menuliskan rasa yang aku punya, tentang masa sekolah, persahabatan dan cinta. Saat SMA aku menggilai pelajaran Bahasa Indonesia. Aku terobsesi dengan majas dan karya sastra lawas. Tulisanku berkembang dari hanya dapat menulis tentang perasaan menjadi membuat karya cerita sederhana. Pada masa inilah aku mulai tertarik untuk menjadi jurnalis. Aku membaca dan menulis cerita, juga membuat resensi dari hobiku lainnya. Aku senang ketika dapat menyelesaikan membaca sebuah buku, rasanya tak ada bandingannya. Aku sangat suka bau buku baru, rasanya tak sabar untuk melahap halaman demi halaman. Membaca membuatku mampu untuk berimajinasi dan menambah referensiku dalam menulis.

Sayang cita-citaku menjadi jurnalis tak kesampaian. Aku harus melanjutkan pendidikan yang sama sekali jauh bertolak belakang dengan dunia penulisan. Waktuku tersita, aku mulai jarang membaca dan menulis karena sibuk dengan jadwal kuliah yang padat dan tugas yang banyak. Tapi aku tak berhenti, walaupun jarang aku masih membaca dan membuat tulisan.

Jaman berkembang, tulisanku pun sudah tak lagi coretan tangan, melainkan ketikan. Aku lupa kapan persisnya berkenalan dengan dunia maya. Namun dari situ aku mulai membuat ruang tulisku di situs Friendster.com. Aku mulai mempublikasikan beberapa tulisan lama. Kemudian aku membuat halaman blog sendiri di situs wordpress.com. Awalnya aku ragu, apakah ini penyaluran atas kegemaranku menulis, atau hanya ikut-ikutan. Diawal-awal ngeblog, aku merasa seperti di bawah tekanan. Membaca blog orang lain membuatku berpikir bahwa halaman blogku tak memiliki konsep. Ide-ide yang menggaung di kepalaku sudah tertoreh dan menjadi buah pikiran orang lain. Aku menjadi tak produktif, karena sepertinya apa yang aku rasa dan apa yang aku pikirkan di kepala sudah menjadi tulisan milik orang lain. Dan sebutan blogger pun rasanya tidak pantas aku sandang, karena aku tidak menulis secara aktif, sebulan sekalipun belum tentu.

Hal ini lama menghantuiku, sampai aku tersadar bahwa aku dulu menulis untuk kesenangan pribadi. Jadi kenapa harus takut dibayangi oleh tulisan-tulisan orang lain. Setiap orang punya cara yang berbeda dalam bertutur kata untuk mengeluarkan buah pikirannya. Setiap orang memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda. Ada yang lugas, adapula yang pandai memainkan kata. Aku bukanlah orang yang pandai berbahasa seperti pujangga, bukan pula pengolah kata seperti penulis-penulis yang telah melahirkan ratusan karya sastra. Tulisanku hanya buah pikiran sederhana. Namun bagiku ini adalah prestasi yang tak terhingga karena aku dahulu seorang disleksia.

Selamat hari blogger nasional….

Write what you wanna write, not what they wanna read