Lajang

Image

Lajang merupakan suatu konsep menarik. Secara harfiah, arti kata lajang sendiri adalah orang yang memiliki status perkawinan belum menikah. Namun seiring perkembangan, kata lajang dapat diartikan tidak memiliki pasangan atau sendirian. Begitulah kira-kira pemahaman yang dapat diterima oleh orang-orang tentang defenisi lajang. Sebenarnya kata lajang sendiri mengandung banyak arti, tergantung bagaimana cara dan sudut pandang orang ketika mendeskripsikannya. Ada lajang yang kebelet pengen punya pasangan atau lebih dikenal dengan jomblo ngenes. Ada lajang yang selalu mengumbar kesedihan agar mendapat perhatian atau sebutan lainnya jomblo akut. Ada pula lajang yang kencan sana sini untuk pengusir sepi. Begitu banyak defenisi hanya dari satu kata ini.

Menjadi lajang itu susah susah gampang. Menyenangkan karena tak perlu bergantung dengan orang. Terbebas dari drama konflik sebuah hubungan. Menyedihkan ketika kita dihadapakan kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi. Interaksi tentu saja tidak didapat hanya dari pasangan, bisa dari keluarga ataupun kolega. Namun tak setiap saat mereka ada dan meluangkan waktu mendengarkan keluh kesah kita di waktu-waktu yang tidak biasa. 

Di Indonesia sendiri, fenomena lajang menjadi isu yang tak pernah habis diperbincangkan. Angka kejadian lajang segaris lurus dengan pertumbuhan modernisasi. Seharusnya dengan semakin modernnya manusia, semakin mudah untuk berinteraksi, semakin mudah pula untuk mendapatkan pasangan. Namun ini anomali, ketika media sosial berkembang dan hubungan antar manusia sudah jauh lebih gampang, justru malah susah untuk mendapatkan pasangan. Mungkin memang teman maya lebih nyaman untuk dijadikan patner senang-senang saja, itulah konsep yang tertanam dan menjadi paradoks.

Lajang di usia matang pun acap kali dijadikan cemoohan, karena dianggap gagal mempunyai pasangan. Yang aneh adalah, ketika seseorang sulit untuk punya pasangan, gaya hidup lah yang disalahkan. Terlalu banyak hura-hura, terlalu banyak menghabiskan waktu dengan sesama lajang, terlalu larut dalam pergaulan yang mementingkan kesenangan semata, dan lain sebagainya. Itulah, faktor yang dianggap berpengaruh akan status hubungan seseorang. Karena terlalu nyaman di lingkungan yang ada, hingga terlena dan menjadi lupa untuk mencari pasangan. Lantas apakah menjadi lajang tidak boleh bersenang-senang ? Harus berdiam diri di rumah lantaran dianggap malu karena sudah tak lagi muda dan pasangan pun tak punya.

Tidak bisa dipungkiri budaya ketimuran Indonesia memang masih menjadi penyebab mengapa status lajang diusia matang dianggap tabu. Opini sosial konservatif yang membangun hal itu. Belum lagi perkara orang tua yang tak sabar menggendong cucu. Namun, keputusan tetap ada ditangan kita sendiri. Lajang ataupun berpasangan sama saja, asal nyaman dan tak merasa dibawah tekanan. Tentang opini negatif, abaikan saja. Toh pada saatnya semua orang juga akan bepasangan, hanya waktu yang membedakan, jadi kenapa harus panik dari sekarang ? Waktu bahagia bersama teman tidak akan terulang.

Selamat malam minggu….