Wanita dan hartanya

 

Tulisan ini tercetus karena terinspirasi dari sebuah program dewasa salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Urusan hubungan badan dan keintiman bukanlah hal yang tabu lagi jaman sekarang untuk dibicarakan. Kian banyak kaum urban yang kini terang-terangan mendiskusikan soal hubungan di ranjang. Novelis-novelis Indonesia pun  kini tak jarang membumbui tulisan mereka dengan adegan-adegan pasangan yang tengah bercinta. Walaupun secara tersirat, tapi dipaparkan dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh logika sang pembaca. Fenomena seks bebas pun belakangan kian marak. Pertumbuhan industri yang menjual layanan pemuas nafsu sementara pun meraksasa. Dan laki-laki adalah pelanggan terbesarnya.

Disinilah masalah berawal, wanita acapkali dijadikan objek seksual. Perempuan yang tak lagi perawan kerap dicap tak bermoral, karena dianggap gagal mempertahankan kesuciannya. Lalu, apa hubungannya keperawanan dengan moral seseorang ? Mengapa lelaki yang tak lagi perjaka tidak dicap sama ? Kenapa semua harus dibebankan pada wanita ? Mengapa hanya wanita yang dihakimi kalau dia sudah kehilangan selaput daranya, mengapa lelaki yang tidak perjaka hanya didiamkan saja ? Disinilah diskriminasi menimpa kaum wanita.

Jika memang banyak perempuan yang tak perawan, berarti bisa dikalkulasikan jumlah laki-laki yang tidak perjaka kira-kira setara atau mungkin dua kali lipatnya. Karena tidak semua hubungan badan diinginkan oleh pihak wanita, kadang terjadi pemaksaan yang berujung kekerasan. Istilah-istilah seperti ‘wahana’ ‘lahan garapan’ dan ‘pintu koboy’ kerap menjadi bentuk pelecehan verbal kepada wanita, dan lelaki lah oknum pelakunya.