Celoteh kecil

Kadang mencari jawaban hanya mengantarkan kita pada pertanyaan yang lebih dalam dan rasa ingin tahu membuat kita jatuh ke jurang yang semakin dalam.  Tapi kejujuran juga bisa membebaskan kita, walaupun mahal harganya. Tapi mungkin akan terasa lebih mudah melupakan apabila semua kenyataan dibiarkan larut seiring bergantinya waktu dan pada intinya waktu juga yang menyembuhkan segala rasa. Waktu memang penyembuh, tapi ketika kepercayaan diganti dengan pengkhianatan bekasnya akan selalu tertinggal di lubuk hati yang paling dalam. Kita bebas memilih untuk mengikat diri dengan perasaan derita itu atau membebaskan diri daripada perasaan tersebut. Semuanya ada di dalam pemikiran dan perasaan kita. Tidak ada orang lain yang boleh memaksa untuk berasa bahagia atau berduka. Sebagai manusia biasa menjadi hal lumrah bagi kehidupan untuk merasakan kegagalan dan kekecewaan.

Kekecewaan kita muncul dalam dua cara. Pertama, bila kita sedang bahagia, kita ingin mempertahankannya selamanya. Yang kedua bila kita sedang dirundung duka kita ingin semuanya berlalu segera. Inilah sebuah proses bahwa kita sedang berada dalam proses penyembuhan. Apa yang kita dapat dari hal ini adalah jika kita dapat melewatinya maka kita akan menjadi sosok yang tegar dikemudian hari. Seperti kata pepatah, semakin sering jatuh, semakin tak mengenal rasa sakit. Dan ada baiknya jika kita membiarkan diri kita terjatuh dalam kesakitan, daripada berpura-pura untuk terus tegar. Namun terus menerus merasakan sakit hanya akan terpenjara dalam sebuah distorsi yang apabila kita tidak lawan hidup ini cuma hanya akan mengenal rasa sakit yang berkepanjangan. Maka isilah hati dengan seluruh bahagia yang kita ciptakan sendiri sehingga kita bisa mengerti betapa hidup ini harus selalu dinikmati.

Maka dari itu kita harus berpegangan pada diri sendiri, karena pada akhirnya hanya diri kita sendiri pula lah yang bisa menciptakan bahagia. Namun, rasanya terlalu naif jika hanya mengandalkan diri sendiri untuk bahagia. Tuhan sudah merencanakan masing-masing individu untuk berhak dikasihi dan wajib mengasihi. Melupakan kisah cinta dimasa lalu memang bukanlah hal mudah, namun mengingatnya dalam batasan tertentu adalah sebuah kewajaran karena itu bisa dijadikan sebagai pelajaran berharga, tapi kalau semua dilakukan dengan terlalu berlebihan maka akan menimbulkan situasi yang tidak seimbang dalam jiwa, karena hal yang sudah berlalu bukan untuk diratapi. Tetapi selalu ada nilai pembelajaran dari kegagalan yang terjadi. Pembelajaran hidup yang membuat kita untuk lebih berhati-hati dalam melangkah agar tak terjerumus dalam kegagalan yang sama berulang kali.