Yang telah beranjak

 

Malam ini entah kenapa aku tiba-tiba ingin sekali mendengar alunan musik dari jemari piawai Yiruma. Mungkin karena aku rindu pada dentingan piano akustik nan menghanyutkan. Membuat ingatanku seperti terbius, mengingatkan aku pada angan-angan, juga kenangan. Tentang hujan dan waktu yang terbang secepat angin topan. Barangkali juga mungkin aku sedang terbawa suasana.  Kiss the Rain dan suara hujan benar-benar perpaduan sempurna. Mengantarkan ku pada kedamaian dan ketenangan, namun juga sekaligus membuatku meronce kenangan.

Semuanya berawal dengan tidak sengaja, lalu menjelma menjadi kata-kata, tentang rasa, kejujuran, dan petualangan. Tentang cinta, dan selembar tipis rasa yang telah terbang bersama kenangan. Mungkin juga sesuatu yang nista. Ini kisah tentang rasa, sesuatu yang kita rasakan ketika bertemu seseorang yang sanggup menghentikan detak jantung dan meluruhkan segenap gelisah. Membuat perut penuh dengan kupu-kupu. Terbenam begitu saja tanpa pernah menyadari sedetikpun apa pemicunya.

Dialah hujan, dan aku matahari, bersama kami merangkai pelangi. Dia adalah tempat di mana aku  pernah menaruh air mata bahagia sekaligus duka. Tapi mimpi rupanya begitu lekas pergi bersama dengan embun pagi. Memang aku sempat menyesap wangi tubuhnya, mengusap peluhnya, dan menghaturkan doa untuknya. Cinta cuma sebentar singgah. Kami terlalu takut dan akhirnya malah tak kuasa menggenggam erat-erat. Selalu meleleh di antara jemari dan pori-pori hati.

Kemudian semuanya berubah seiring musim yang terus berganti. Rasa itu pergi tanpa pamit, terbang bersama kenangan. Semua yang pernah ada selesai dan hanya menjadi potongan masa lampau. Ada yang hilang memang, tapi kami harus berhenti sampai disini. Aku jadi bayangan, begitupun dia. Hubungan kami bukan dari jenis yang layak dipamerkan kepada dunia.