Everyday is Valentine Day

 

 

Februari identik dengan bulan penuh cinta. Kenapa, karena tepat tanggal 14 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai World’s Affection Day. Kenapa harus Februari dan kenapa harus tanggal 14. Konon sih katanya mengacu pada hari dieksekusinya St. Valentine yaitu seorang pendeta yang berani menikahkan sepasang Romeo dan Juliet pada jamannya ditengah otoritas sang kaisar yang tidak menginginkan pernikahan. Berawal dari sinilah setiap tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari raya kasih sayang mengacu pada hari kematian St. Valentine yang dianggap sebagai pejuang cinta. Hmmmnnn, entah dimana korelasinya.

Valentine terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk “valentines”. Simbol modern valentine contohnya sebuah kartu berbentuk hati. Kemudian tradisi bertukaran kartu diperluas dengan pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya dapat berupa buket bunga disertai dengan coklat.

Hadiah di hari valentine itu  bisa berupa barang, kalimat, dan lainnya. Tetapi inti utamanya adalah pemberian perhatian. Namun perhatian  seharusnya dapat diberikan setiap hari. Sehingga menjadikan tradisi pemberian hadiah di hari valentine lebih kepada pengaruh sosial yang kemudian menjadi tekanan sosial. Misalnya, ada teman yang diberikan bunga atau cokelat dari pasangannya, ia kemudian mengharap pacarnya juga berlaku hal yang sama.

Awal mula pemberian hadiah di hari valentine bisa saja terjadi karena banyak tontonan film atau cerita-cerita yang di dalamnya berisi aktivitas ini, atau produk-produk yang membuat paket khusus valentine, sehingga menjadikannya semacam sugesti atau tindakan yang mencerminkan kasih sayang tersebut.

Sebuah perayaan pada hari valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang berkencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Tidak sepenuhnya salah kalau valentine dianggap sebagai hari percintaan, karena opini yang berkembang dimasyarakat memang seperti itu. Namun perlu digarisbawahi tradisi perayaan valentine bukan hanya kepada pacar ataupun kekasih. Valentine memang merupakan hari terbesar dalam soal percintaan tetapi bukan berarti selain hari valentine tidak merasakan cinta.

Haruskah perayaan valentine itu menjadi bagian dari kehidupan berpasangan. Hal-hal semacam ini kembali lagi kepada tiap – tiap pasangan. Jangan pernah melihat romantis atau tidaknya pasangan dari kencan di hari valentine, melainkan perhatikan proses dan konstruksi dari sebuah hubungan. Karena afeksi terwujud ketika hubungan yang terjadi kian kuat dan dalam. Bila ada salah satu dari pasangan tidak bisa melakukan rutinitas valentine karena hal-hal prinsip, ini bukan suatu masalah, karena intinya bagaimana cara kita menunjukkan rasa kasih sayang, dan tentunya berdasarkan kesepakatan serta pemahaman keduanya.