Setahun Kemarin

 

 

20 Oktober 2010, tepat setahun sudah sejak dimulainya pemerintahan SBY-Boediono. Kabinet telah ditentukan dan tugaspun telah dikerjakan. 70 % suara rakyat sepakat bahwa SBY layak diberikan kesempatan kedua untuk memimpin Indonesia karena bercermin dari kinerja pemerintah sebelumnya. Sosok SBY yang begitu bersahaja, dan kesuksesannya membuat ia kembali naik tahta untuk kedua kalinya. Tentu saja rakyat memiliki harapan besar dan tak mau kecewa serta menginginkan restorasi Indonesia bukan cuma sekedar wacana.

Setahun berlalu, seiring berjalannya waktu harapan rakyat atas pemerintahan SBY-Boediono memudar. Terjadi kemelut dan konflik di institusi negara yang tidak dapat diatasi. Presiden dianggap gagal membangun kepercayaan masyarakat dalam menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan, kebangsaan, dan kerakyatan. Terjadi stagnasi negara yang akhirnya menciptakan frustasi serta stress sosial.

Keraguan rakyat muncul berawal dari pembentukan kabinet yang berdasarkan pertimbangan politik balas jasa, gender, etnik, dan agama. Bukan dari pertimbangan profesionalitas, sehingga banyak menteri yang di tempatkan tidak sesuai dengan profesi atau keahliannya.

Masalah pun satu per satu berdatangan di pemerintahan SBY-Boediono. Diawali dengan kasus pelemahan KPK, Bailot Bank Century, kasus penggelapan pajak, sampai Malaysia yang melanggar batas kehormatan negara. Kesemua kasus ini seolah-olah sekarang hanya menjadi tumpukan file lama yang tidak jelas penyelesaiannya, menguap dan tiba-tiba hilang begitu saja.

Belum lagi isu tentang HAM dan kemiskinan yang menciptakan kesenjangan dan ketimpangan masyarakat dan daerah. Tengok lah bencana di Wasior. Kenapa harus ada perbedaan antara bencana disana dengan bencana lainnya yang pernah terjadi di Indonesia ?!  Tidak pedulikah pemerintah terhadap nyawa rakyatnya ?!

Letupan kekecewaan terhadap pemerintah pun kian hari kian memuncak, karena presiden enggan berkomunikasi dan mendengarkan rakyatnya. Tidak membuka diri terhadap masukan rakyat. Yang dilakukan hanya sekedar komunikasi basa basi searah melalui kegiatan pers conference, tidak mau duduk berdiskusi untuk menyelesaikan masalah bangsa dan hanya fokus menjaga citra.

Pemerintah juga tidak mau melihat permasalahan secara mikro. Enggan meninjau dan cenderung tidak mengerti keadaan yang terjadi di lapangan. Mereka hanya berpatok pada data statistik yang berupa angka yang bisa saja dimanipulasi.

Hari ini setelah setahun, masyarakat yang telah mengevaluasi pemerintah dan mengalami kekecewaan akan melakukan demonstrasi besar-besaran untuk mengkoreksi kesalahan fundamental yang terjadi. Aksi turun kejalan, pengajuan petisi, aspirasi unjuk rasa adalah hal yang biasa dalam sistem demokrasi. Namun belakangan muncul wacana kudeta yang membuat suhu politik di tanah air memanas. Wajar isu tersebut meluap, karena kekecewaan rakyat atas krisis kenegaraan yang terjadi sudah terakumulasi. Namun kudeta tidak dihasilkan dari opini seseorang tetapi hasil dari gerakan kerakyatan.

Dan akhirnya 20-10-2010. Apapun yang terjadi hari ini tentu saja semua orang berharap tidak ada aksi anarki yang merugikan banyak pihak. Jangan kotori tanggal yang indah ini dengan perbuatan tercela yang akan menjadi penyesalan selamanya :)