A Perfect Murder

 

140 charcters that ruin language order

Sadar atau tidak arus globalisasi telah mengubah dinamika manusia. Menyeret orang menjadi pribadi instan yang dikemas dalam kemasan praktis. Sama halnya seperti berbahasa. Akhir-akhir ini banyak yang berubah dalam tatanannya karena keterbatasan karakter yang memfasilitasi aplikasi pengolahan kata.

Ambil contoh saja Twitter, situs microblogging yang sedang naik daun ini membuat penggunanya terbatas dalam mengolah kata-kata. Sehingga bukan tidak mungkin seseorang harus menyingkat kata-kata yang bisa saja nantinya akan merubah makna. Ada sedikit pengekangan hak bicara di sini, sadar atau enggak keterbatasan karakter di twitter sedikit banyak membuat kata-kata yang diolah bukannya indah malah menjadi sampah. Even worse, kadang tweeple; begitulah biasa pengguna twitter disebut hanya menulis status dan berkata-kata tanpa menyalurkan makna dari ucapannya.

Dan inilah efeknya, spamming dari pengguna twitter yang berlebihan menimbulkan budaya malas membaca. Karena kita telah terbiasa membaca frase-frase singkat, sehingga buku-buku tebal yang lebih berbobot mulai menjadi anak tiri. I used to love reading, tapi jujur setahun terakhir gue udah gak pernah lagi beli buku. Gue lebih suka spending money untuk beli pulsa dan menjaga layanan internet gue tetap aktif dan salah satu alasannya adalah untuk tweeting.

Banyak kata-kata baru yang tercipta akibat dari komunikasi dunia maya. Ironisnya tidak semua penguna mengetahui arti kata yang sebenarnya, namun masih mempunyai rasa percaya diri untuk menggunakan kata tersebut.

Suka atau tidak twitter sedikit banyak menumpulkan ketajaman analisis penggunanya, membuat pikiran menjadi terkotak dan menurunkan level kemampuan dalam pengembangan kata atau kalimat. Jadi rasanya tidak berlebihan jika twitter disebut sebagai pembunuh sempurna, racun dalam vena yang pelan-pelan mematikan tatanan bahasa.