What is the meaning of commitment

Well, defenisi pernikahan menurut gue adalah penyatuan dua raga kedalam satu jiwa dimana seseorang yang tadinya hidup sendiri melakukan orientasi ulang terhadap hidupnya dan memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus baru. Dalam hal ini diperlukan sikap adaptasi dan toleransi. Buat gue keputusan untuk menikah adalah keputusan sederhana namun kompleks dari segi prosesnya, dimana terbentang fakta bahwa pernikahan memiliki efek domino yang mempengaruhi setiap hal kecil ataupun besar baik dalam diri kita maupun orang disekitar.

So, kadang gue bingung dengan orang-orang yang memutuskan untuk menikah muda. Well bukannya gue gak setuju tapi too risky aja menurut gue. Karena pernikahan muda menurut gue terjadi karena pasangan itu mengalami rasa ketertarikan yang sangat kuat, kemudian perasaan kompulsif itu berkembang menjadi cinta tanpa menempuh masa jeda. Gue ragu pasangan yang menikah muda itu benar-benar mencintai pasangannya karena menurut gue mereka jatuh cinta secara identitas bukan sebagai personalitas yang utuh.

Bicara soal komitmen, gue pun gak tau pasti apa pengertiannya. Banyak yang bilang kita harus punya komitmen ketika berhubungan dengan seseorang yang dianggap special, konteksnya di sini adalah pacaran. Kalo ga ada komitmen maka hubungan itu terkesan kabur dan tidak punya aturan. Well, okey… Gak sepenuhnya salah sii, tapi menurut gue kata-kata komitmen itu terlalu serius. Gue lebih suka menyebutnya dengan agreement, persetujuan. Dimana kita membicarakan mengenai hal-hal yang disukai atau tidak dan setuju untuk melakukan ataupun menghindarinya.

My dad said one of the best things in this world is Japanese wife, dimana mereka mempunyai kepatuhan luar biasa dan dedikasi yang besar untuk suami mereka. Well, I will be that one as my mom do to my dad. My dad deserve for it, because he is so powerful. And my mom die of love even on his shadow, as I am. Besar harapan gue untuk memiliki future husband yang personalitasnya seperti bokap gue. Not quite similar sih, karena kan masing-masing orang beda dan unik. Tapi untuk urusan pendamping hidup gue butuh orang yang bisa ‘megang’ gue but keep worthing my own freedom. Dan butuh proses juga untuk menjadi seorang japanese wife. So that’s why gue belum memikirkan pernikahan sampai detik ini. Ada masanya nanti gue bakalan pikirin hal itu. Karena ketika nanti gue memasuki  kehidupan pernikahan gue mau hubungan itu bersifat konstruktif, dimana gue melakukan hal yang terbaik demi kepentingan sendiri dan kebanggaan pasangan. Working relationship, dimana setiap pasangan memperhatikan perkembangan dan kelanjutan hubungan.