Random thought, shuffle feeling

 

Rasa adalah esensi yang direfleksikan pada cermin diri, dimana kata menjadi tidak berharga dan perbuatan menjadi sama seperti pantomim yang tidak menyalurkan makna.

Tapi cinta bisa melakukan lebih dari itu. Cinta melakukannya dalam gerak parasimpatik, bersamaan dan di bawah kesadaran. Seperti saat – saat indah yang kita lewatkan bersama orang yang kita cintai, tak bisa diungkap dengan kata – kata karena terlalu bahagia.

Kita pasti pernah sakit secara fisik, tapi nanti akan sembuh sendiri karena di luar sana banyak obat yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

Dan kita juga pasti pernah sakit secara batin, baik itu dengan cara ditinggalkan ataupun meninggalkan. Apapun bentuknya yang jelas intinya kehilangan orang yang kita sayangi pasti sedikit banyak akan menorehkan perasaan luka di hati.

But, don’t you know apa yang lebih menyakitkan daripada kehilangan orang yang kita sayangi ?! Rasa penyesalan kita sendiri. Rasa penyesalan yang membuat kita lebih menghargai segalanya.

Saat kita menyimpan segala sesuatu sendiri, semua akan terasa berat. Bahkan hanya untuk sekedar bernafas. Menceritakan masalah kita kepada orang lain tidak akan menjadikan kita lemah. Justru memberi kita sudut pandang baru, menjadi dewasa, juga belajar mengerti dan merasa. Belajar menempatkan diri dan tidak menjadi egois.

Analoginya jika kita mempunyai 2 buah strawberry dan memberikan sebagian kepada teman kita, maka kita berdua hanya akan tau rasa strawberry.

Tapi jika kita mempunyai 1 buah strawberry dan 1 buah jeruk, ketika kita berbagi kita akan mendapatkan 2 bentuk berbeda, ukuran yang berbeda, dan jelas rasa yang berbeda.

Setiap orang punya cara masing – masing untuk menyalurkan emosinya. Tapi sayang banget kalo waktu yang kita punya disia – siakan hanya untuk emosi yang dihiperbolakan. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Semua yang berlandasakan kasih sayang, ketulusan, dan kesabaran akan membuahkan hasil yang manis dan meminimalisir kesesakan hati karena rasa sesal.