Mendua, aku tak mampu (Mel’s first storiette)

 

Plaaaakkkk…
Entah sudah berapa kali tamparan itu mendarat di wajah Bella, sejak dia dan Reno menjalin hubungan. Sudah hampir dua tahun, tapi sikapnya tak pernah berubah. Kasar, bahkan untuk hal – hal sepele, dia gak segan – segan menampar wajah Bella. Seperti yang dia lakukan malam ini. Reno menampar Bella dihadapan semua sahabat mereka, hanya karena Bella ingin beranjak kembali ke hotel lebih dulu. Sedang Reno masih ingin menikmati suasana cafe lebih lama lagi.

Rasa sakit karena tamparan memang tak seberapa. Tapi belasan pasang mata yang menyaksikan adegan memalukan itu, memaksa Bella untuk melangkah pergi meninggalkan cafe. Terlebih Reno, tega menamparnya di depan sahabat mereka.

Semua yang duduk di meja itu terdiam setelah apa yang dilakukan Reno pada Bella.
“Tega lo ma cewek, Ren.” Stuart membuka suara.
“Apa urusan lo. Cewek, cewek gue. Terserah gue lah !” Sahut Reno.
“Tapi gak perlu pake nampar kan, ngomong baik – baik emangnya gak bisa ?” Balas Stuart
“Eh bangsat !!! Dah pinter lo ya, sok – sokan menggurui gue !” Reno berkata sambil menumpahkan minuman, dan kemudian pergi meninggalkan cafe.

Di pantai, Bella duduk sendirian memandang laut biru dalam kegelapan dan sesekali menatap bintang di langit yang hitam. Sembari duduk, Bella mengeluarkan netbook dari dalam tasnya, dan mulai menulis sesuatu.

Dear diary…
Ternyata aku memang manusia bodoh. Sudah terlalu sering Reno menyakiti perasaanku, kasar terhadapku, namun selalu aja aku bisa maavin dia. Aku gak mampu berpaling darinya. Begitu besarkah cintaku pada Reno ?! Aku sebenarnya ragu. Lalu apa yang membuatku gak bisa berpaling dan masih tetap bersamanya ?! Mungkin kedengarannya konyol, tapi jujur aku merasakan menemukan bayangan Ryan melekat pada diri Reno. Meski pribadi mereka sangat bertolak belakang.

Sesaat Bella berhenti menulis. Dia mulai mengutak atik ponselnya. Ingin rasanya dia menelpon Ryan dan meluapkan keluh kesah yang ada. Namun niat menelpon Ryan diurungkannya, dan dia kembali fokus pada netbooknya.

Diary… Pengen banget rasanya telpon Ryan, pengen banget curhat tentang semua yang terjadi malem ini. Tapi kan dia bukan tong sampahku. Konyol rasanya kalo aku terus berkeluh kesah kepadanya. Harus terus berbagi kesedihan dengannya.

Ryan adalah mantan pacar Bella yang sekarang dianggapnya sebagai kakak sekaligus sahabat terbaiknya.

Tiba – tiba suara nyanyian seseorang membuyarkan konsentrasi Bella menulis diarynya. Gak terlalu merdu, tapi lirik She Will Be Loved yang dinyanyikannya cukup kena di perasaan Bella. Rico ternyata, sambil bernyayi dia mulai duduk di sebelah Bella. Dia menatap Bella dan kemudian tersenyum manis kepadanya.
“Kenapa lo nyayi Co ?” Bella bertanya sambil menutup netbooknya dan mengembalikan kedalam tas.
“Karena wanita ingin dimengerti Bel !” Jawab Rico sambil tersenyum dan meneruskan nyayiannya.
“Jayus ah, lo ngapain disini ?”
“Menunggu pagi !”
“Ah, cape deh !”
“Sama deh !”
“Ricoooooo !!!” Bella tersenyum masam sambil mencubit Rico.
“Ih, genit ah cubit – cubit !” Bel, hidup itu jangan terlalu serius, santai aja.”
Bella terdiam mendengar kata – kata Rico.
“Woy, malah ngelamun. Kesambet entar.”
Bella pun buyar dari lamunannya kemudian melemparkan senyum manis pada Rico.
“Lo manis deh kalo senyum, Bel.”
“Gombal”
“Ih serius, cewek kaya lo mah gak pantes digombalin.”
“Terus pantesnya diapain donk ?!”
“Dibahagiain”
Kemudian Rico berdiri dan mengulurkan tangannya pada Bella.
“Ayo”
Bella yang masih memikirkan kata – kata Rico pun bingung.
“Kemana ?!”
“Lo mau masuk angin disini ?! Udah ikut aja”
“Iya, tapi kemana ?!”
“Jalaaaannnn, besok kan pulang”
“Iya ya, besok udah balik aja.”
“Ah, kelamaan mikirnya, yuk cabut !!” Rico beranjak sambil menarik tangan Bella.

Malam terakhir Bella di Bali dihabiskan bersama Rico, sahabat pacarnya. Bukan dengan Reno yang merupakan kekasihnya. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Rico dan Bella pun bergegas kembali ke hotel.

Rico mengantar Bella sampai depan kamarnya.
“Kalo ada apa – apa cerita ya. Gue siap buat jadi sandaran lo.”
Kemudian Rico mengecup pipi Bella dan beranjak pergi ke kamarnya.

“Ge, bangun Ge, bangun !!!”
“For God’s sake Bellaaaa, dari mana aja lo ?! Semuanya ribut nyariin lo. Lo gak papa kan Bel ?!” Geraldine berbicara dengan setengah sadar sambil memeriksa badan Bella, sapa tau ada bekas pukulan atau semacamnya ditubuhnya.
“Bel, lo gak papa kan ?!”
Bella diam
“Bel, lo ko’ diem aja siii ?!”
Bella masih diam
“Bel, tar kesambet Leak Bali lo !!!”
“Gue dicium Rico, Ge !”
“Lo mabok Bel ?!”
“Gue sadar sepenuhnya, Ge”
“Dicium Rico, cerita gak lo sama gue !!!”
“Tadi malem habis dari cafe, gue pergi ke pantai. Tiba – tiba ada Rico gitu. Gue juga gak tau dia dateng dari mana.”
“Terus ?!”
“Ya terus gue pergi sama dia, ini baru pulang.”
“Dia nyium lo nya kapan ?!”
“Barusan, tadi di depan pintu.”
“Sumpah lo Bel ?!”
“Kapan si gue boong ma lo Ge ?!”
“Gak keliatan sapa – sapa kan ?! Kalo ada yang ngeliat terus lapor ke Reno, masuk kubur lo berdua.”
“Ih, apaan si lo ?!”
“Yoda, ga usah dipikirin. Tidur lo, besok cek-out pagi.”
Bella pun beranjak ke tempat tidur dengan sejuta pikiran yang melayang dalam benaknya.

Akhirnya pesawat mendarat juga di Bandara Soekarno – Hatta. Setelah Bella mengambil semua bagasinya, dia pergi keluar dan mendapati Tristan yang sudah manyun – manyun dari tadi.
“Bilang donk kalo pesawatnya telat !!!”
“Maaf mas, gue juga gak tau”
“Ya udah, ayo buruan !”
“Iya bentar, gue pamit dulu sama Reno dan yang lain.”
“Cepet !!!!”
“Iya, masku yang tampan.”
Bella pun kemudian menghampiri teman – temannya.
“Semuanya, gue duluan ya. Besok ketemu di sekolah.” Sapa Bella pada teman – temannya sambil sesekali melirik Rico.
“Sayang, aku duluan ya….” Pamit Bella pada Reno.
“Hem, hati – hati…” Jawab Reno ketus.

Bella baru saja keluar dari kamar mandi, tiba – tiba ponselnya berbunyi. Ada SMS masuk ternyata. Cepat Bella membukanya. Dari nomor tak dikenal.

Dear Bellatrix, hope you’ve arrived home safe and sound.
Best regard’s Rico😉

Copy, confirming I’ve arrived home safe and sound.

Very well, hope you had a good sleep and catch beautiful dream. Kinda rush to see you tommorow😉
Godspeed !!!

Thank you, sleep well too🙂

Bella turun dari mobil dan melangkahkan kaki dengan malas di halaman sekolahnya. Kali ini Bella datang agak siangan, soalnya dia telat bangun. Lagipula hari ini baru hari pertama sekolah. Masih masa orientasi siswa baru. Jadi walaupun gak berangkat sebenarnya bukan masalah, karena belum ada kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, begitu pikirnya. Bella langsung menuju ruang mading yang ada di ujung koridor lantai dua. Sembari berjalan kesana, dia melihat teman – temannya sedang asyik melakukan perpeloncoan anak – anak baru di lapangan. Maklum, Bella dan teman – teman seangkatannya sekarang adalah siswa paling senior di sekolah.

Tok… Tok…, terdengar suara pintu diketuk. Kemudian Bella pun menoleh.
“Boleh masuk ?!” Tanya Rico
“Masuk aja, cari sapa ?!” Jawab Bella
“Cari bola basket. Tadi kayanya ada masuk kesini, liat gak ?!”
“Udah deh, gak usah becanda.”
“Baru kali ini gue masuk ruang mading.”
“Ya lagian, anak basket kaya lo ada kepentingan apa keliaran di ruang mading.”
“Ada, ketemu lo. Anyway gak ikutan ngerjain anak baru ?!”
“Cukup ngeliatin aja mah kalo gue, lo ?!”
“Buat yang lain aja, gue gak suka yang begituan.”
“Terus sukanya apa donk ?!”
“Kamu. Well, gue cabut dulu ya.”
Rico pun beranjak keluar dan lagi – lagi dia membuat Bella bingung.

Hari demi hari hubungan Rico dan Bella semakin dekat. Sehari aja kalo Bella gak ketemu Rico, seperti ada bagian yang hilang dan sepi yang dirasa Bella. Sepertinya perlahan Rico mulai menggeser posisi Reno di hati Bella. Wajar Bella merasakan hal itu, karena Rico dapat membuat hari – hari Bella menjadi lebih indah dan berwarna. Gak ada lagi air mata yang terpancar jikalau Reno menyakitinya. Semua karena Rico yang selalu dapat membuat Bella bahagia. Bella sadar dia sudah terpesona pada Rico. Dan juga sadar bahwa dia telah mendua. Tak bisa setia pada satu cinta. Rico dan Reno sama – sama ada dalam hatinya. Rasanya dia ingin memiliki keduanya, tapi ini terlalu egois. Bella gak sanggup buat memilih, terlalu sulit untuknya. Satu sisi dia ingin melepaskan Reno untuk bersama dengan Rico. Tapi disisi lain dia gak siap buat berpisah dengan Reno. Dilema itu terus bertahan, sampai akhirnya Bella memutuskan untuk tidak memilih keduanya. Kemudian Bella meminta Rico dan Reno untuk bertemu dengannya.

“Ren, maafin aku. Belakangan ini aku udah gak setia sama kamu, aku ada affair sama Rico.”
Sontak Reno serasa disambar petir, kemudian dia berdiri dan ingin mendaratkan bogem mentah ke arah Rico, tapi dihalangi oleh Bella.
“Bangsat lo Co !!! Cewek temen sendiri lo hajar juga. Bajingan, brengsek. Gak tau diri !!!”
“Reno !!!! Jangan salahin Rico ! Aku juga bisa kaya gini karena kamu. Aku gak bego Ren, aku tau kamu di luar sana juga ada affair sama cewe lain. Tasya, Alena, Nadia, Tiara, dan entah berapa banyak lagi. Tapi aku lebih milih diam, dan nunggu kamu berubah. Tapi kenyataannya apa ?!” Bella berkata sambil mulai menangis.
“Sayang, maafin aku. Aku bener – bener gak bermaksud gitu. Aku sayang banget sama kamu.”
“Lalu maksud kamu apa ?! Too late Reno, aku udah cape dengan cuma diam dan nunggu kamu dengan segudang kata maaf. We’re over, sorry !!!”
“Bella, aku sayang banget sama kamu, tolong kamu kasih aku kesempatan.”
“Udah terlalu banyak kesempatan yang aku kasih buat kamu. Tapi kamu selalu sia – siain itu.”
“Aku bakalan berubah buat kamu, buat kita. Bilang aja semua yang kamu mau. Aku pasti nurutin, asal kamu tetap sama – sama aku.”
“Yang aku mau, kamu terima aku apa adanya, tanpa nyari – nyari kekurangan yang aku miliki pada diri perempuan lain. Yang aku mau, kalo orang nanya apa aku benar – benar cinta Reno dengan tulus, aku bisa langsung jawab iya tanpa harus ragu sedikitpun.”
“Bel, please, I’m begging to you. Don’t leave me here like this.”
“You leave me first Ren.”

Bella pergi meninggalkan Rico dan Reno. Tapi Rico berusaha mengejarnya. Dan Reno hanya tertunduk lesu gak tau harus berbuat apa.
“Bel, please stay with me.”
“I have to go Co, sorry !!”
“What is all about, Bel ?!”
“Co, I love you, I do. You’ve give me the very best day of my life. But, as for now I just wanna be alone, completely alone.”
“I’ll wait you, no matter it takes rest of my life.”
Bella memeluk Rico.
“I apologize for making you waiting.”
“No matter the struggle is, I’ll chase you everywhere you are.”
“Rico, if you should be that aggressive. I have no chance to chase you.
Kemudian Rico memeluk erat Bella dan mengecup keningnya. Selepas itu Bella pergi dengan meninggalkan sedikit kehampaan dihati mereka berdua.