Hidup sederhana ?! Mana mungkiiinnn !!!

Home alone and nothing to do. Lengkap banget deh kayanya penderitaan gue hari ini. Gak ada yang bisa gue lakuin selain utak – atik blackberry dan gonta – ganti channel televisi. Gue jadi pengen liburan lagi, menikmati masa – masa indah menghirup udara kebebasan tanpa harus memikirkan all tiring stuffs. Cuma ada dua cara yang bisa membebaskan gue dari perasaan tertekan akibat beban pekerjaan. Satu liburan dan kedua belanja. Liburan sih udah, tapi kenapa belom puas ya ?! Tipikal manusia, kalo mengalami kebahagiaan dia ingin mempertahankan selamanya. So belanja jadi alternatif lain buat stress removal.

Well, karena ga bisa belanja langsung jadinya iseng gue ber-online shopping ria. Shopping for labels, shopping for love. Manolo and Louis is all I’m thinking of. Aduuuuuhhhh, banyak banget deh barang – barang lucu. I wanna have it all. Berapa banyak siii uang yang diperlukan buat beli seisi duniaaaaa and all fancy things ?! Enak kali ya kalo jadi anak keluarga Hilton, ato buat taraf lokalnya Bakrie. Kaum sosialite yang bisa dapetin semua yang mereka mau cuma dengan tinggal tunjuk. Kalo bukan bagian dari keluarga mereka, ya tinggal gebet aja cowo – cowo nya, hahahahahaha :p

So, sapa siii di dunia ini yang gak mau hidup sejahtera ?! Tunjuk tangan ayooo !!! Tepuk tangan paling kenceng gue tunjukkin buat orang – orang yang gak menggerakkan tangannya. Menjadi kaya adalah impian tiap manusia, tapi lucunya hampir semua orang malu mengatakannya keras – keras. Menjadi kaya sering dianggap sebagai cita – cita yang gak etis dan cenderung diasosiasikan sebagai sifat serakah, kemaruk dan sebagainya.

Padahal, apa salahnya ingin kaya ?! So, cita – cita menjadi kaya sering diampelas lebih halus dengan kata pengganti. Paling banter mereka menyebutnya dengan ‘sejahtera’ atau ‘berkecukupan’ (untung ada penemu kata – kata yang terdengar lebih manusiawi, sehingga orang – orang munafik gak perlu nambah musuh :p)

Keinginan menjadi kaya. Yah, walopun ajarannya gak bakalan ada dalam teori kewarganegaraan, dan gak dianjurkan dalam ilmu tata krama, tapi spiritnya ada dalam hukum ekonomi yang bunyinya kurang lebih seperti ini : dengan pengeluaran seminim mungkin, mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Kalau diterjemahkan menggunakan kamus pergaulan kota kira – kira maknanya jadi duit boleh pas – pasan, tapi hidup jangan sengsara, hahahahaha😉

Well, kalo kita hidup di kota besar dan bergerak dalam relung kehidupan di pusat hedonisme. Di area tempat makhluk – mahkluk berlabel kota dengan segala gemerlapnya berkumpul, maka rumus ekonomi harus teguh dipegang. Terlebih di tengah kota, tempat masyarakatnya memiliki mata yang luar biasa lincah untuk memastikan ‘kelas’ seseorang. Jadi makhluk kota ya harus gaya. Mau gaya ya harus kaya. Mau kaya ya usaha. Kalo mentok, ya cari cowo kaya😉