Pursuit dream

 

Dua kosong satu, 2:01 AM, tiga deret angka yang ada di pojok kanan bawah monitor LCD ini menyadarkan aku kalau sekarang sudah dini hari. Seharusnya aku berada di kasurku yang nyaman dengan bantal guling yang empuk dan selimut yang menghangatkan malamku yang dingin. Tapi sampai saat ini mataku masih terbuka lebar, aku masih tetap setia menatap monitor yang mungkin kalau dia bisa bicara dia akan berteriak untuk minta diistirahatkan sejak dari tadi.

Terpikir olehku, apa jadinya kalau benda2 disekitar kita bisa bicara. Hal apa saja yang akan mereka katakan. Jika kasurku bisa bicara mungkin dia akan merayuku untuk segera merebahinya dan selimutku akan berkata bahwa dia akan mengantarku ke alam mimpi yang indah.

Khayalan dan mimpi, tak ada batasan yang tegas atas 2 jenis imajinasi ini. Yang jelas keduanya sama – sama butuh usaha keras untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Memang mewujudkan khayalan terdengar lebih susah karena kadang khayalan hanya berupa fantasi tentang serangkaian pikiran, perasaan, gambar, dan emosi. Lalu bagaimana dengan mimpi. Mimpi dapat didefinisikan sebagai cita – cita, suatu hal yang sangat kita inginkan. Impianku adalah menjadi seorang wanita mapan and beloved wife and mom for my family. Simple memang, tapi mewujudkannya pasti tidak mudah.

Sebagai seorang pisces yang memiliki karakter pemimpi, aku kadang tersesat dalam mimpiku tapi aku harus menata ulang prioritas mimpi itu agar semua dapat terwujud satu per satu. Karena terlalu banyak mimpi akan membuat kita mengutak atik dan lupa untuk membuatnya menjadi kenyataan. Mau ini mau itu, banyak sekali. Tetapi sekarang aku tahu, setidaknya aku harus bisa memilah-milih mimpi yang sesuai dengan kapabilitas aku dan aku sudah mulai membangun mimpi itu untuk beberapa dekade ke depan.