Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Amelia Rozianty 4:23 PM on October 30, 2013 Permalink | Reply  

    Kembalikan hak saya 

    Image

    Tujuan orang membuka rekening tabungan adalah untuk memiliki simpanan. Yang jikalau sewaktu-waktu diperlukan dapat dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan. Saya mempercayakan dana saya pada sebuah bank milik pemerintah untuk dikelola. sudah separuh umur hidup saya menjadi nasabahnya. Dana saya memang tidak seberapa, terlebih waktu pertama membuka rekening masih uang pemberian dari orang tua.

    Saya memilih bank itu bukan tanpa alasan, pertama karena memang bank paling besar di indonesia. Kedua karena hampir semua anggota keluarga saya menabung disana. Namun belakangan saya kecewa dengan pelayanannya. Tidak hanya sekali saya bermasalah dengan bank pemerintah ini. Tahun ini, rekening saya bermasalah. Terdapat penggabungan transaksi dari dua rekening yang berbeda. Tentu saja salah sistem perbankannya. Bagaimana bisa saya melakukan transaksi direkening A dan saldo direkening B ikut terpotong juga.

    Saya membuat laporan pengaduan. Mereka menjanjikan dana saya kembali dalam waktu 28 hari kerja, yang kalau ditotal menjadi 2 bulan karena waktu itu terpotong cuti libur lebaran. Ternyata proses pengembalian dana itu bertele-tele. Saya harus rajin memastikan bahwa laporan saya ditangani agar dana saya segera kembali. Lewat proses rumit dan panjang, akhirnya setelah menunggu lama saldo saya yang terpotong dikembalikan.

    Rekening saya bermasalah lagi. Kali ini saya gagal melakukan transaksi. Transaksi saya lakukan via electronic banking. Namun sialnya walaupun terdapat pemberitahuan transaksi gagal, saldo saya direkening terpotong. Lagi-lagi saya harus membuat laporan. Kali ini saya benar-benar kecewa. Mereka justru menyarankan melakukan sekali lagi pembayaran, untuk mengganti transaksi yang gagal. Saran mereka tidak saya turuti, saya hanya membuat laporan gagal transaksi.

    28 hari kerja lagi saya harus menunggu, padahal saya membutuhkan dana itu. Lewat dari 28 hari, dana saya belum kembali. Saya melakukan komplain, sayangnya tidak mereka tanggapi. Karena tidak ada bukti saya telah gagal bertransaksi. Saya mengajukan banding, namun masih dalam proses. Memang dana itu tak seberapa, mungkin pihak mereka enggan memprosesnya. Makanya menjadi berbelit-belit. Jika saja saya orang yang kelebihan uang, mungkin angka segitu tidak masalah tidak dikembalikan. Namun, ini bukan perkara sedikit atau banyaknya dana. Saya hanya menuntut hak saya…

    Advertisements
     
  • Amelia Rozianty 12:19 PM on October 28, 2013 Permalink | Reply  

    Sumpah pemuda 

    Image

    85 tahun yang lalu, sejumlah pemuda pada hari ini berkumpul untuk berikrar bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Inilah satu tonggak sejarah utama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Waktu berlalu, kemerdekaan diraih. Bangsa Indonesia terbebas dari kekangan penjajah. Kemudian jaman pun berubah, lambat laun ikrar pemuda menjadi bias. Tak ada lagi pergerakan pemuda untuk mempersatukan Indonesia seperti semboyan Bhineka Tunggal Ika. Mungkin karena memang sudah merdeka. Namun justru setelah merdeka tantangan yang ada di depan mata adalah membangun Indonesia.

    Relevansi sumpah pemuda di masa lalu agaknya sudah memudar. Semangat pemuda jaman sekarang tak terlihat, terkesan antipati dan kurang peduli terhadap pembangunan bangsa. Memang ada yang peduli, namun tak seberapa. Pergerakan pemuda masa kini minim contoh nyata. Hanya segelintir pemuda yang mampu mendedikasikan dirinya untuk pembangunan Indonesia. Sebenarnya tak perlu pergerakan besar untuk membangun bangsa dan negara. Jika setiap pemuda dapat mendisiplikan dirinya pasti Indonesia mampu menjadi negara besar dan maju. Contoh kecilnya adalah dengan disiplin menjaga lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan. Atau memungut sampah yang berserakan.

    Membangun Indonesia tidak harus dari hal besar, hal kecilpun dapat menjadi bermakna ketika dilakukan dengan teratur dan bersama-sama. Semoga pergerakan pemuda tidak hanya hari ini saja. Semoga momen hari ini bukan sekedar perayaan tahunan saja. Tapi dijadikan tonggak untuk pemuda sehingga terpacu untuk lebih mencintai Indonesia. Perubahan dimulai dari diri sendiri. Ketika kita sudah dapat mendisiplinkan diri, sangat mudah untuk menjadi bagian dari pergerakan demi kemajuan bangsa Indonesia.

    Selamat hari sumpah pemuda…

    Apa yang sudah kau lakukan untuk Indonesia ?

     
  • Amelia Rozianty 2:31 PM on October 27, 2013 Permalink | Reply  

    Blogging 

    Image

    Waktu kecil, aku menderita disleksia. Yaitu gangguan fungsi kognitif pada otak kiri yang ditandai dengan ketidakmampuan mengolah kata, baik itu menulis ataupun membaca. Tentu saja orang tuaku tak ingin anaknya tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan tahapan normal balita. Aku lupa kapan pertama kali dilatih membaca, diusia empat atau lima tahun sepertinya. Menjadi seorang disleksia membuatku terpacu untuk bisa menulis dan membaca. Diusia sekolah dasar aku memulai membaca kumpulan cerita. Dari yang paling sederhana, buku cerita tipis bergambar sampai akhirnya aku mampu membaca novel tanpa ilustrasi. Setiap hari aku membaca satu cerita, dan terus berkembang hingga aku dapat menyelesaikan membaca sebuah buku. Puluhan bahkan hampir ratusan buku cerita telah aku tamatkan. Kemudian aku pun mulai menulis jurnal sederhana, seperti aktifitas sehari-hari sampai hal-hal yang aku alami.

    Beranjak remaja, aku semakin adiksi membaca. Tulisan ku pun sudah tak lagi sederhana. Aku mulai menuliskan rasa yang aku punya, tentang masa sekolah, persahabatan dan cinta. Saat SMA aku menggilai pelajaran Bahasa Indonesia. Aku terobsesi dengan majas dan karya sastra lawas. Tulisanku berkembang dari hanya dapat menulis tentang perasaan menjadi membuat karya cerita sederhana. Pada masa inilah aku mulai tertarik untuk menjadi jurnalis. Aku membaca dan menulis cerita, juga membuat resensi dari hobiku lainnya. Aku senang ketika dapat menyelesaikan membaca sebuah buku, rasanya tak ada bandingannya. Aku sangat suka bau buku baru, rasanya tak sabar untuk melahap halaman demi halaman. Membaca membuatku mampu untuk berimajinasi dan menambah referensiku dalam menulis.

    Sayang cita-citaku menjadi jurnalis tak kesampaian. Aku harus melanjutkan pendidikan yang sama sekali jauh bertolak belakang dengan dunia penulisan. Waktuku tersita, aku mulai jarang membaca dan menulis karena sibuk dengan jadwal kuliah yang padat dan tugas yang banyak. Tapi aku tak berhenti, walaupun jarang aku masih membaca dan membuat tulisan.

    Jaman berkembang, tulisanku pun sudah tak lagi coretan tangan, melainkan ketikan. Aku lupa kapan persisnya berkenalan dengan dunia maya. Namun dari situ aku mulai membuat ruang tulisku di situs Friendster.com. Aku mulai mempublikasikan beberapa tulisan lama. Kemudian aku membuat halaman blog sendiri di situs wordpress.com. Awalnya aku ragu, apakah ini penyaluran atas kegemaranku menulis, atau hanya ikut-ikutan. Diawal-awal ngeblog, aku merasa seperti di bawah tekanan. Membaca blog orang lain membuatku berpikir bahwa halaman blogku tak memiliki konsep. Ide-ide yang menggaung di kepalaku sudah tertoreh dan menjadi buah pikiran orang lain. Aku menjadi tak produktif, karena sepertinya apa yang aku rasa dan apa yang aku pikirkan di kepala sudah menjadi tulisan milik orang lain. Dan sebutan blogger pun rasanya tidak pantas aku sandang, karena aku tidak menulis secara aktif, sebulan sekalipun belum tentu.

    Hal ini lama menghantuiku, sampai aku tersadar bahwa aku dulu menulis untuk kesenangan pribadi. Jadi kenapa harus takut dibayangi oleh tulisan-tulisan orang lain. Setiap orang punya cara yang berbeda dalam bertutur kata untuk mengeluarkan buah pikirannya. Setiap orang memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda. Ada yang lugas, adapula yang pandai memainkan kata. Aku bukanlah orang yang pandai berbahasa seperti pujangga, bukan pula pengolah kata seperti penulis-penulis yang telah melahirkan ratusan karya sastra. Tulisanku hanya buah pikiran sederhana. Namun bagiku ini adalah prestasi yang tak terhingga karena aku dahulu seorang disleksia.

    Selamat hari blogger nasional….

    Write what you wanna write, not what they wanna read

     
  • Amelia Rozianty 12:13 PM on October 26, 2013 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Lajang 

    Image

    Lajang merupakan suatu konsep menarik. Secara harfiah, arti kata lajang sendiri adalah orang yang memiliki status perkawinan belum menikah. Namun seiring perkembangan, kata lajang dapat diartikan tidak memiliki pasangan atau sendirian. Begitulah kira-kira pemahaman yang dapat diterima oleh orang-orang tentang defenisi lajang. Sebenarnya kata lajang sendiri mengandung banyak arti, tergantung bagaimana cara dan sudut pandang orang ketika mendeskripsikannya. Ada lajang yang kebelet pengen punya pasangan atau lebih dikenal dengan jomblo ngenes. Ada lajang yang selalu mengumbar kesedihan agar mendapat perhatian atau sebutan lainnya jomblo akut. Ada pula lajang yang kencan sana sini untuk pengusir sepi. Begitu banyak defenisi hanya dari satu kata ini.

    Menjadi lajang itu susah susah gampang. Menyenangkan karena tak perlu bergantung dengan orang. Terbebas dari drama konflik sebuah hubungan. Menyedihkan ketika kita dihadapakan kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi. Interaksi tentu saja tidak didapat hanya dari pasangan, bisa dari keluarga ataupun kolega. Namun tak setiap saat mereka ada dan meluangkan waktu mendengarkan keluh kesah kita di waktu-waktu yang tidak biasa. 

    Di Indonesia sendiri, fenomena lajang menjadi isu yang tak pernah habis diperbincangkan. Angka kejadian lajang segaris lurus dengan pertumbuhan modernisasi. Seharusnya dengan semakin modernnya manusia, semakin mudah untuk berinteraksi, semakin mudah pula untuk mendapatkan pasangan. Namun ini anomali, ketika media sosial berkembang dan hubungan antar manusia sudah jauh lebih gampang, justru malah susah untuk mendapatkan pasangan. Mungkin memang teman maya lebih nyaman untuk dijadikan patner senang-senang saja, itulah konsep yang tertanam dan menjadi paradoks.

    Lajang di usia matang pun acap kali dijadikan cemoohan, karena dianggap gagal mempunyai pasangan. Yang aneh adalah, ketika seseorang sulit untuk punya pasangan, gaya hidup lah yang disalahkan. Terlalu banyak hura-hura, terlalu banyak menghabiskan waktu dengan sesama lajang, terlalu larut dalam pergaulan yang mementingkan kesenangan semata, dan lain sebagainya. Itulah, faktor yang dianggap berpengaruh akan status hubungan seseorang. Karena terlalu nyaman di lingkungan yang ada, hingga terlena dan menjadi lupa untuk mencari pasangan. Lantas apakah menjadi lajang tidak boleh bersenang-senang ? Harus berdiam diri di rumah lantaran dianggap malu karena sudah tak lagi muda dan pasangan pun tak punya.

    Tidak bisa dipungkiri budaya ketimuran Indonesia memang masih menjadi penyebab mengapa status lajang diusia matang dianggap tabu. Opini sosial konservatif yang membangun hal itu. Belum lagi perkara orang tua yang tak sabar menggendong cucu. Namun, keputusan tetap ada ditangan kita sendiri. Lajang ataupun berpasangan sama saja, asal nyaman dan tak merasa dibawah tekanan. Tentang opini negatif, abaikan saja. Toh pada saatnya semua orang juga akan bepasangan, hanya waktu yang membedakan, jadi kenapa harus panik dari sekarang ? Waktu bahagia bersama teman tidak akan terulang.

    Selamat malam minggu….

     
  • Amelia Rozianty 9:06 PM on November 2, 2012 Permalink | Reply  

    Wanita dan hartanya 

     

    Tulisan ini tercetus karena terinspirasi dari sebuah program dewasa salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Urusan hubungan badan dan keintiman bukanlah hal yang tabu lagi jaman sekarang untuk dibicarakan. Kian banyak kaum urban yang kini terang-terangan mendiskusikan soal hubungan di ranjang. Novelis-novelis Indonesia pun  kini tak jarang membumbui tulisan mereka dengan adegan-adegan pasangan yang tengah bercinta. Walaupun secara tersirat, tapi dipaparkan dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh logika sang pembaca. Fenomena seks bebas pun belakangan kian marak. Pertumbuhan industri yang menjual layanan pemuas nafsu sementara pun meraksasa. Dan laki-laki adalah pelanggan terbesarnya.

    Disinilah masalah berawal, wanita acapkali dijadikan objek seksual. Perempuan yang tak lagi perawan kerap dicap tak bermoral, karena dianggap gagal mempertahankan kesuciannya. Lalu, apa hubungannya keperawanan dengan moral seseorang ? Mengapa lelaki yang tak lagi perjaka tidak dicap sama ? Kenapa semua harus dibebankan pada wanita ? Mengapa hanya wanita yang dihakimi kalau dia sudah kehilangan selaput daranya, mengapa lelaki yang tidak perjaka hanya didiamkan saja ? Disinilah diskriminasi menimpa kaum wanita.

    Jika memang banyak perempuan yang tak perawan, berarti bisa dikalkulasikan jumlah laki-laki yang tidak perjaka kira-kira setara atau mungkin dua kali lipatnya. Karena tidak semua hubungan badan diinginkan oleh pihak wanita, kadang terjadi pemaksaan yang berujung kekerasan. Istilah-istilah seperti ‘wahana’ ‘lahan garapan’ dan ‘pintu koboy’ kerap menjadi bentuk pelecehan verbal kepada wanita, dan lelaki lah oknum pelakunya.

     

     
  • Amelia Rozianty 10:59 PM on August 29, 2012 Permalink | Reply  

    Husband material 

    Image

     

     

    Nowadays some women choose not to marry a husband-material man, because they don’t feel that they are wife materials. Husband material itu biasanya nice, caring, fatherly, responsible, financially secure, and most importantly loyal. Contrary to popular believe, gak semua cewek dambakan cowok husband material, kecuali mindset mereka emang udah siap berkeluarga. Apalagi cewek jaman sekarang udah complex, jarang yang mau duduk diam dirumah jadi ibu rumah tangga. Rata-rata wanita karir yang pengahasilannya gak jauh beda dengan pria.

    Jika ditelaah lagi, cowok husband material adalah sosok yang membosankan, gak ada daya tarik karena udah gampang ketebak alurnya. So, kalo emang belom nikah jangan bertingkah seperti seorang suami, atur sana-sini. Kenyataannya kan belom merit jadi artinya tuh cewe belom butuh suami.

    Bertingkah layaknya suami itu selalu nolongin, cariin solusi buat masalah, provide needs, in another words ‘ngidupin dia’. Nanti ada masanya tiba, saat cewek akan emotionally ready to be wife, and that time they expect to have husband material-man. Dan jangan ketipu, kalo cewek suka sama anak kecil trus bilang pengen punya anak bukan berarti  pengen cepet nikah.

     
  • Amelia Rozianty 7:58 PM on August 29, 2012 Permalink | Reply  

    The power of tanda tangan 

     

    Tanda tangan adalah coretan tangan yang mendeskripsikan nama dari seseorang. Tanda tangan merupakan identitas yang kepemilkannya merupakan suatu ciri khas. Seberapa persisnya sebuah tanda tangan ditiru, tidak akan pernah sama dari coretan pemilik asli. Menduplikasi tanda tangan tergolong tindakan kriminal apalagi untuk kepentingan yang dapat disalahgunakan.

    Gak penting segampang dan sesimple apapun tanda tangan seseorang, jika dia memiliki nama dan memangku sebuah jabatan, makan tanda tangannya akan selalu diperlukan, dicari dan kalau kepepet bisa dipalsukan. Perjuangan mendapatkan tanda tangan orang besar pun biasanya tidak mudah. Saat seperti ini lah kuasa berbicara. Orang yang punya nama biasanya tanda tangannya berharga.

     
  • Amelia Rozianty 10:36 AM on June 7, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Lost,   

    There’s a ‘good’ in goodbye 

    Setiap orang pasti akan datang dan pergi dalam kehidupan, dulu kita bisa kenal dengannya dan punya sejuta mimpi  terhadap orang tersebut. Tapi pada akhirnya, dia pergi. Bisa kembali atau tidak, kita gak akan pernah tau. Gak ada yang abadi kesimpulannya. Semua yang hidup, pasti datang dan suatu saat akan pergi. Itu sudah jadi hukum alam. Tapi kalau kita bisa menyikapi kepergian seseorang yang kita sayangi dengan hati yang tabah dan sabar, lalu yakin bahwa sebenarnya kalau ini adalah takdir dan kita bisa menerima dengan lapang dada, maka ini bisa menjadi dinamika yang membuat hidup kita jadi lebih berarti, daripada terus-terusan berpikir negatif. Jika kita terus-terusan dalam keadaan terpuruk, maka sama saja dengan kita menggali kuburan sendiri, dan kita akan berada pada kegelapan seumur hidup. Belajarlah untuk bisa berpikir positif akan semua hal yang terjadi pada hidup dan mengambil semua makna serta hikmahnya. Mungkin raga boleh pergi, tapi cinta yang sudah ditanam selama ini tidak akan beranjak kemana-mana. Biarlah cinta itu tumbuh dengan besar. Jaga dia, karena suatu saat kita bisa berikan cinta yang besar ini untuk orang yang tepat. Tentunya untuk orang yang akan datang ke kehidupan kita, atau mungkin pula dia yang akan kembali lagi.

     

    Anggapan kalau sesuatu yang kita perjuangkan dan dapatkan dengan susah payah itu akan abadi, ternyata salah besar. Semua bisa hilang dalam waktu sekejap. Tuhan memang Maha Adil, memberikan kita kemampuan akal dan pikiran untuk mendapatkan yang kita mau. Tapi kalau memang gak pantas untuk kita, ujung-ujungnya ya diambil juga. Tapi setidaknya kita sudah merasakan jerih payah yang kita lakukan. Apapun bentuknya, mau cinta, karir, benda berharga, dan orang yang kita sayangi, semua bisa kita dapat. Tapi jangan harap mereka abadi.

     

    Ketika cinta hilangkita akan bersedih karena merasa telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup. Namun kembali lagi Tuhan memberikan akal dan pikiran. Kalau sebenarnya kita bisa berpikir bahwa rasa ikhlas dan tabah perlu kita tanam dalam diri dan dilatih setiap hari sampai hati ini kuat menerima kenyataan yang paling buruk sekalipun. People come, people go. Suatu kenyataan yang mengiris hati. Suatu hal yang kadang berat untuk kita terima. Semoga waktu yang tak dilewati bersama dengannya dapat membuat kita menjadi orang baru, orang bijak dan lebih dewasa. Dan yang paling penting bisa jadi orang yang lebih baik dari hari-hari sebelumya.

     
    • theloveculture 1:59 PM on June 7, 2012 Permalink | Reply

      That’s a good reminder, “there’s a good in goodbye”.

      When I was in so much pain from loosing a loved one,Glen Fredly’s prologue message in his album “Selamat Pagi, Dunia!” spoke so much to me.

      He said, “Segala sesuatu ada waktunya…Apa yang tercipta merupakan jawaban dari putaran waktu yang Tuhan telah sediakan… emosi, ego, luapan tawa, tetes air mata, impian, semua lebur jadi satu, menjadi sebuah pengakuan yang penuh arti buat perjalanan hidup… mungkin terasa sederhana namun ini sisi hidup G yang pernah G alami dan ingin G bagi saat ini… semua penuh arti… Baik ataupun buruk, hidup G penuh arti… Semua yang G lewati sampai hari ini, ada hanya karena CINTA dan KASIH KARUNIA… Nikmati hidup apa adanya karena semua berawal dari sana, yakin segala sesuatu ada waktunya dan terjadi tepat pada waktu-NYA, dan akhirnya kita akan tersenyum sambil berkata… “Selamat pagi, duni!” peace and love, Glenn Fredly

      Just thought I’d share it with you. 🙂 Love, Mish

  • Amelia Rozianty 7:12 PM on May 23, 2012 Permalink | Reply  

    Isolasi 

     

     

    Ada hal yang tidak aku pahami belakangan ini. Seharusnya keluarga adalah tempat ku kembali, tetapi ini sebaliknya. Justru mereka lah alasan aku ingin pergi. Jiwaku saat ini memang sedang lelah. Andai saja aku bisa pergi meninggalkan tanpa beban pikiran. Pasti aku lakukan. Sebutlah aku liar, tapi itu memang jiwa bebas ku yang membuncah ingin lepas karena terlalu banyak diberi batas.

    I miss my old life, things were good at the old days. Belakangan aku sering banget kontra sama orang tua. Terlalu banyak perbedaan sudut pandang antara aku dan mereka. Sebenarnya apa yang salah dari aku menikmati hidup dan hobby ku. Toh aku juga sudah menuntaskan kewajiban ku terhadap mereka. Tapi mengapa mereka enggan mau longgar barang sedikit saja.

    Aku paling gak suka hidupku dikomentari bertubi-tubi. Aku merasa sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidup sendiri. Aku gak pernah habis pikir kenapa mereka terlalu menghalangi terhadap minat yang aku suka. Berasa hidup di jaman Belanda, semuanya dilakukan serba tak terbuka. Kalo ketahuan sedikit saja , rentetan amunisi omelan akan keluar tanpa jeda.

    Ironis banget buatku, karena di rumah sendiri aku justru tak mendapat kehangatannya. Pergi dan lari juga tidak menyelesaikan semuanya. Sebenarnya aku gak mau dicap sebagai anak durhaka. Tapi saat ini hati ku sangat-sangat kontra dengan orang tua. Tak ada pembicaraan titik tengah yang menghasilkan solusi untuk disimpulkan. Tidak semua alasan atas tindakan mereka perlu aku mengerti. Aku juga berhak egois sesekali.

     
  • Amelia Rozianty 9:53 PM on May 21, 2012 Permalink | Reply  

    Celoteh kecil 

    Kadang mencari jawaban hanya mengantarkan kita pada pertanyaan yang lebih dalam dan rasa ingin tahu membuat kita jatuh ke jurang yang semakin dalam.  Tapi kejujuran juga bisa membebaskan kita, walaupun mahal harganya. Tapi mungkin akan terasa lebih mudah melupakan apabila semua kenyataan dibiarkan larut seiring bergantinya waktu dan pada intinya waktu juga yang menyembuhkan segala rasa. Waktu memang penyembuh, tapi ketika kepercayaan diganti dengan pengkhianatan bekasnya akan selalu tertinggal di lubuk hati yang paling dalam. Kita bebas memilih untuk mengikat diri dengan perasaan derita itu atau membebaskan diri daripada perasaan tersebut. Semuanya ada di dalam pemikiran dan perasaan kita. Tidak ada orang lain yang boleh memaksa untuk berasa bahagia atau berduka. Sebagai manusia biasa menjadi hal lumrah bagi kehidupan untuk merasakan kegagalan dan kekecewaan.

    Kekecewaan kita muncul dalam dua cara. Pertama, bila kita sedang bahagia, kita ingin mempertahankannya selamanya. Yang kedua bila kita sedang dirundung duka kita ingin semuanya berlalu segera. Inilah sebuah proses bahwa kita sedang berada dalam proses penyembuhan. Apa yang kita dapat dari hal ini adalah jika kita dapat melewatinya maka kita akan menjadi sosok yang tegar dikemudian hari. Seperti kata pepatah, semakin sering jatuh, semakin tak mengenal rasa sakit. Dan ada baiknya jika kita membiarkan diri kita terjatuh dalam kesakitan, daripada berpura-pura untuk terus tegar. Namun terus menerus merasakan sakit hanya akan terpenjara dalam sebuah distorsi yang apabila kita tidak lawan hidup ini cuma hanya akan mengenal rasa sakit yang berkepanjangan. Maka isilah hati dengan seluruh bahagia yang kita ciptakan sendiri sehingga kita bisa mengerti betapa hidup ini harus selalu dinikmati.

    Maka dari itu kita harus berpegangan pada diri sendiri, karena pada akhirnya hanya diri kita sendiri pula lah yang bisa menciptakan bahagia. Namun, rasanya terlalu naif jika hanya mengandalkan diri sendiri untuk bahagia. Tuhan sudah merencanakan masing-masing individu untuk berhak dikasihi dan wajib mengasihi. Melupakan kisah cinta dimasa lalu memang bukanlah hal mudah, namun mengingatnya dalam batasan tertentu adalah sebuah kewajaran karena itu bisa dijadikan sebagai pelajaran berharga, tapi kalau semua dilakukan dengan terlalu berlebihan maka akan menimbulkan situasi yang tidak seimbang dalam jiwa, karena hal yang sudah berlalu bukan untuk diratapi. Tetapi selalu ada nilai pembelajaran dari kegagalan yang terjadi. Pembelajaran hidup yang membuat kita untuk lebih berhati-hati dalam melangkah agar tak terjerumus dalam kegagalan yang sama berulang kali.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel